Memperingati Hari Ibu pada 22 Desember
![]() |
| Semangat: Mbak Yul (kiri) berjualan dan Ibu Mas'udah (kanan) sedang mendata |
Yuliatin siap mengkayuh sepedanya. Beraneka jajanan seperti gorengan, krupuk, es lilin, camilan sudah ditata dan digantungkan di sepedanya itu. Wanita 48 tahun itu setiap pagi menjajakkan jajanan itu ke sekolah-sekolah. Kalau sore, Mbak Yul (panggilan akrab Yuliatin) juga ider ke dusun Bangunrejo, Ngelo, dan Jabaran.
Di Dusun Bangurejo Desa Gondek Kecamatan Mojowarno ini, Mbak Yul terkenal sebagai perempuan yang tidak pantang menyerah. Dulu awalnya Mbak Yul menjual jamu pada tahun 2001 dengan suara khasnya, “Jamu....Jamu...”
Namun, sekarang Mbak Yul beralih menjadi penjual jajanan. Semua itu dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, “Yo jualan buat makan 3 anak saya, sekolahno anak-anak, bayar listrik” kata Mbak Yul bersemangat.
Mbak Yul juga dikenal sebagai perempuan serba bisa. Bahkan ia bisa memanjat pohon kelapa, “Saya panjat kelapa sendiri pas bojoku ke sawah.” kata Mbak Yul sambil tersenyum. Ibu tiga anak ini bersyukur bisa terus berjualan sampai sekarang ini. Meski setiap hari Mbak Yul harus bangun jam dua dini hari untuk mempersiapkan jualan, mulai dari menggoreng pisang, tahu isi, dan lain-lain. Meski begitu, dia mengaku merasa senang. “Ya, seneng nek akeh sing tuku, jadine untung. Tapi nek rugi yo senep,” kata Mbak Yul setengah bercanda. Ibu 48 tahun ini menegaskan akan terus berjualan selama masih kuat dan bisa melakukannya. Semua itu demi keluarganya.
Ulfa Innah atau yang sering dipanggil Mbak Ul juga sama seperti Mbak Yul. Setiap pagi pukul enam, Mbak Ul berjualan lauk pauk seperti botho’ tahu tempe, brengkesan pindang, dadar jagung dan masakan lainnya. Mbak Ul berjualan juga untuk membayar sekolah anak-anaknya, untuk makan sehari-hari. Setiap hari pendapatan Mbak Ul rata-rata 15 ribu rupiah. Kata Mbak Ul, dia mendapatkan banyak kenalan selama berjualan seperti itu. “Seneng banyak kenalan’e, gak senenge nek kepegelen gigiku jadi sakit,” kata Mbak Ul.
Mbak Ul dikenal suka memberi bonus pada pembeli. Kadang ada yang beli botho’ dua, dikasih tiga. Ketika ditanya kenapa, Mbak Ul menjawab, “Yo, nek sogeh belum tentu mau memberi. Yo bonus iki, gawe ngumpulno amal thithik-thithik.” kata Mbak Ul. Mbak ul pingin menambah dagangannya, tapi tidak punya modal.
Selain Mbak Yul dan Mbak Ul, ada perempuan hebat bernama Siti Mas’udah. Dialah kepala dusun (Kasun) Bangunrejo Desa Gondek Mojowarno. Kata orang-orang, Ibu Mas’udah ini adalah kepala dusun perempuan yang pertama kali di Desa Gondek. Ibu Mas’udah mulai diangkat sebagai Kasun sejak tahun 2003.
“Saya bertugas menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Dusun Bangunrejo.” Kata Ibu Mas’udah. Persoalan di Dusun Bangunrejo banyak sekali seperti persoalan pembagian air sawah, persoalan posyandu. Kadang juga persoalan pertengkaran warga karena rebutan harta waris. “Ya kalau ada persoalan, saya ikut menyelesaikan. Kalau warga ada yang tidak terima suatu hal/masalah, saya mendekati tokoh masyarakat dan RT-RW untuk ikut rembukan.”
Perempuan 48 tahun mempunyai 4 anak. Sehingga dia harus pinter-pinter membagi waktu untuk bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Dalam satu minggu, Ibu Mas’udah biasanya ke balai desa dua kali mulai jam 09.00 sampai jam 12.30 Siang.
“Tidak enaknya kalau pekerjaan menumpuk. Sukanya kalau program di dusun berhasil dan maksimal,” kata Ibu Mas’udah.
Kata Ibu Mas’udah, dia ingin menyatukan warga Dusun Bangunrejo agar bisa hidup rukun dan bersatu.
| Mak Kamsiyah saat berkunjung ke Griya Baca ABUKUS |
Selanjutnya ada Kamsiyah yang biasanya dipanggil Mak Yah. Sekarang Mak Yah berumur 70 tahun. Tapi, Mak Yah masih bekerja sebagai buruh tani. “Iyo, mreman. Yo nandur pari, nandur tebu, jagung, semabarangkalir.” kata Mak Yah.
Kalau bekerja sebagai buruh tani, Mak yah biasanya mendapat uang sebelas ribu rupiah per harinya. Uang itu untuk membeli beras, bumbu-bumbu, dan bayar listrik. Mak Yah sering kecapaian dan asam uratnya kambuh. “Nek mari nang sawah yo pegel kabeh, asam urat kambuh, nek mari ngunduh jagung gosong kabeh.”
Mak Yah sampai sekarang tetap bekerja, “Yo nek gak kerjo gak oleh duit, gak mangan.” kata Mak Yah. Meskipun sudah tua, Mak Yah masih terlihat segar dan kuat. Mak Yah juga suka mendengarkan radio. Dia mempunyai radio kecil. Dia suka mendengar ludruk atau dangdutan. “Yo, luweh enak ngrungokno radio ketimbang gelok TV. Iso gawe konco turu.” kata Mak Yah.
Itulah wanita-wanita yang hebat di desa kami. Selain mbak Yul, Mbak Ul, Ibu Mas’udah dan Mak Kamsiyah, masih banyak ibu-ibu hebat di desa kami. Mereka terus berusaha dan berjuang demi anak-anaknya dan keluarganya. Mereka adalah ibu-ibu yang hebat. Karena itu, kami mengucapkan selamat hari ibu pada tanggal 22 Desember 2011 kepada seluruh ibu-ibu hebat yang ada di Dunia. (Tim Griya Baca Abukus).
(Diterbitkan di Radar Mojokerto pada 18 December 2011)
Peliput: Tim Griya Baca Abukus:
Peliput: Tim Griya Baca Abukus:
Kordinator : Anita Aulia (13 th), Dewi Lestari (14 th)
Anggota Tim : Lili Damayanti (13 tn), Nurul Muayyadah (13 th), Gilang Ahsan Hidayat (10 th), M. Khisbullah (13 th), Wahyu A. (12 th), Habibullah (12 th), W. Fanani (10 th)

Social Plugin